Kampus pada hakikatnya merupakan ruang pendidikan tinggi yang berfungsi menuntun mahasiswa agar berkembang sebagai manusia merdeka, kritis, dan bertanggung jawab. Namun, dalam realitas pendidikan tinggi saat ini, kampus kerap beroperasi layaknya pabrik yang berorientasi pada output, efisiensi, dan kebutuhan pasar kerja.
Jika ditinjau melalui pemikiran Ki Hajar Dewantara, kondisi tersebut menunjukkan adanya pergeseran makna pendidikan, dari proses pembebasan manusia menjadi sekadar produksi tenaga kerja.Orientasi pendidikan tinggi yang menitikberatkan pada capaian akademik, akreditasi, dan kompetensi teknis mendorong mahasiswa diperlakukan secara seragam. Kurikulum disusun dengan target kelulusan cepat dan keterampilan praktis, sementara ruang refleksi kritis dan pembentukan karakter semakin menyempit.
Dalam perspektif Ki Hajar Dewantara, pendidikan semacam ini berpotensi mengekang kemerdekaan berpikir mahasiswa. Kampus seharusnya menjadi ruang dialog dan pencarian makna, dengan dosen berperan sebagai pamong yang membimbing, bukan sekadar pengajar yang mentransfer pengetahuan.Oleh karena itu, kampus perlu dikembalikan pada hakikatnya sebagai ruang pendidikan yang memanusiakan manusia.
Pendidikan tinggi harus menumbuhkan kesadaran kritis, kepekaan sosial, dan tanggung jawab kebangsaan, bukan hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja. Melalui kacamata Ki Hajar Dewantara, kampus ideal adalah kampus yang memerdekakan pikiran, membentuk karakter, dan menuntun mahasiswa agar mampu berkontribusi secara bermakna bagi masyarakat dan bangsa.
Penulis : Nur Syafira Rahman ( Sekretaris Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam 2025-2026)
Leave a Reply