Darurat Pendidikan: Ketika Pulpen Lebih Mahal dari Nyawa Anak

Kematian peserta didik di NTT akibat ketidakmampuan membeli alat tulis adalah bukti telanjang kegagalan negara dalam menjamin hak dasar pendidikan. Di negeri yang mengklaim anggaran pendidikan 20% dari APBN, seorang anak justru kehilangan masa depannya karena sebatang pulpen. Ini bukan kecelakaan, melainkan bentuk kekerasan struktural yang dibiarkan.

Pendidikan Indonesia hari ini masih mereproduksi ketimpangan sosial. Sekolah menuntut prestasi, sementara negara gagal memastikan kebutuhan paling dasar. Bagi siswa miskin di wilayah tertinggal, pendidikan bukan lagi jalan pembebasan, tetapi ruang yang menyingkirkan mereka secara perlahan.

Pemerintah sibuk berbicara digitalisasi dan kurikulum modern, namun lupa bahwa di banyak tempat, buku dan alat tulis masih menjadi barang mewah. Menuntut capaian akademik tanpa menjamin akses dasar bukan hanya tidak adil, tetapi tidak manusiawi.

Jika negara tidak mampu memastikan bahwa setiap anak bisa belajar tanpa dibunuh oleh kemiskinan, maka slogan “Indonesia Emas 2045” hanyalah ilusi elit. Pendidikan seharusnya menyelamatkan nyawa, bukan mengorbankannya.

Penulis: Muhammad Yahya

Leave a Reply