CAKRAONLINE.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa ketertarikan Amerika Serikat terhadap mineral strategis dari Indonesia masih berada pada tahap awal penjajakan. Hingga kini, belum ada kesepakatan resmi yang mengikat antara kedua negara.
Ketertarikan Negeri Paman Sam itu muncul setelah adanya penyesuaian tarif bea masuk untuk produk Indonesia menjadi 19%, disertai anggapan bahwa RI bersedia mencabut larangan ekspor untuk sejumlah mineral penting. Namun, menurut Bahlil, diskusi dengan pihak AS masih sebatas negosiasi informal.
“Belum ada yang konkret, masih sebatas pembicaraan awal atau lobi-lobi saja,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/8/2025).
Dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 296.K/MB.01/MEM.B/2023, mineral seperti nikel, tembaga, aluminium, timah, magnesium, mangan, dan kobalt masuk dalam daftar mineral kritis yang dimaksud.
Indonesia sendiri telah mengembangkan beberapa proyek hilirisasi mineral, terutama nikel, hingga tahap produksi baterai kendaraan listrik. Beberapa proyek ini dijalankan bersama mitra dari negara seperti Korea Selatan dan Tiongkok.
Bahlil menekankan bahwa kerja sama hilirisasi terbuka untuk semua negara tanpa perlakuan khusus, termasuk untuk Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa negara mana pun yang tertarik harus siap berinvestasi langsung di Indonesia.
“Hilirisasi adalah agenda utama Presiden. Semua negara kami perlakukan setara—baik itu China, Jepang, Amerika, maupun Eropa. Kami terbuka untuk semua selama mereka berinvestasi dan ikut membangun industri dalam negeri,” tegasnya.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah mulai merancang strategi ekspor mineral kritis ke AS. Dalam pertemuannya bersama Bahlil, mereka mendiskusikan peluang Indonesia dalam rantai pasok energi yang kini menjadi fokus kebijakan AS—termasuk pengembangan teknologi energi bersih dan bahan baku mineral.
Airlangga menyebut bahwa peluang ini dapat memperluas kerja sama strategis Indonesia dalam bidang energi, terutama dalam ekspor mineral, investasi teknologi, dan alih teknologi.
“Ini adalah momen penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok energi global serta menambah nilai ekspor nasional,” ungkapnya melalui akun Instagram resmi @airlanggahartarto_official pada Selasa (5/8/2025).
Ia menambahkan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah akan terus mempercepat pembangunan industri hilir dan memperkuat ketahanan energi nasional sebagai bagian dari strategi menuju pertumbuhan ekonomi hijau jangka panjang.
Leave a Reply