Memperkuat Konsep Diri Kader Perempuan HMI Dalam Bingkak Islam

CAKRAONLINE.COM – Di tengah gempuran zaman yang terus berubah, kader perempuan HMI dituntut memiliki kekuatan yang tidak hanya terlihat dari luar. Kekuatan intelektual saja tidak cukup. Kekuatan organisasi saja tidak cukup. Yang paling utama adalah kekuatan dari dalam, yaitu konsep diri yang jelas dan kokoh. Konsep diri adalah cara seorang perempuan memandang dirinya, menghargai dirinya, dan memahami perannya di tengah keluarga, masyarakat, dan peradaban. Tanpa konsep diri yang benar, seorang kader perempuan akan mudah goyah. Mudah silau oleh standar kecantikan semu, mudah lelah karena membandingkan diri dengan orang lain, dan mudah kehilangan arah ketika dihadapkan pada pilihan hidup.

Islam datang 1400 tahun lalu untuk mengangkat kembali martabat perempuan. Islam tidak pernah menempatkan perempuan sebagai objek. Islam menempatkan perempuan sebagai subjek peradaban. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama di sisi-Nya dalam hal kemanusiaan, ibadah, dan pertanggungjawaban amal. Perbedaan yang ada bukanlah bentuk diskriminasi, melainkan bentuk keadilan dan pembagian peran agar kehidupan berjalan harmonis. Perempuan diberi amanah besar sebagai madrasatul ula, sebagai pendidik pertama, penjaga nilai, dan pembentuk karakter generasi. Dari rahim perempuan lahir para pemimpin, dari didikan perempuan lahir peradaban. Maka jelas, membangun konsep diri perempuan sama artinya dengan membangun masa depan umat.

Sayangnya hari ini banyak perempuan yang terjebak dalam dua kutub yang sama-sama menyesatkan. Kutub pertama adalah patriarki kultural yang menganggap perempuan hanya pantas di dapur, tidak perlu sekolah tinggi, tidak perlu bersuara. Kutub kedua adalah liberalisme yang menawarkan kebebasan tanpa batas dengan jargon “tubuhku otoritasku”. Keduanya sama-sama merendahkan perempuan. Yang satu mengerdilkan, yang satu mengeksploitasi. Padahal Islam menawarkan jalan tengah: jalan kemuliaan. Jalan di mana perempuan boleh berilmu setinggi-tingginya, boleh berkarya seluas-luasnya, selama tetap menjaga fitrah, akhlak, dan tujuan hidupnya sebagai hamba Allah.

Di sinilah pentingnya Latihan Khusus Kohati. Kohati sebagai lembaga yang lahir dari rahim HMI memiliki tugas besar untuk mencetak kader perempuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Latihan Khusus Kohati bukan sekadar forum menambah wawasan. Ini adalah ruang untuk setiap kader perempuan bertanya ulang pada dirinya: siapa aku, apa tugasku, dan bagaimana aku bisa bermanfaat. Di forum ini kader diajak untuk membangun citra diri yang positif berdasarkan nilai Islam dan Nilai Dasar Perjuangan HMI. Diajak untuk memiliki harga diri yang tidak digantungkan pada validasi media sosial. Dan diajak untuk menyadari perannya sebagai agen perubahan, bukan hanya di rumah, tetapi juga di ruang publik.

Kader perempuan HMI Bulukumba hari ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ada persoalan pernikahan dini, ada tekanan ekonomi, ada budaya yang masih membatasi ruang gerak perempuan, ada juga arus informasi yang membingungkan. Semua itu hanya bisa dijawab dengan satu hal: konsep diri yang kuat. Konsep diri yang berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah. Konsep diri yang menjadikan NDP HMI sebagai kompas. Kader perempuan yang tahu bahwa nilainya tidak ditentukan oleh laki-laki, tidak ditentukan oleh komentar netizen, tetapi ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan Allah dan seberapa besar manfaatnya bagi sesama.

Melalui Latihan Khusus Kohati HMI Cabang Bulukumba ini, kami ingin melahirkan kader perempuan yang utuh. Utuh intelektualnya, utuh spiritualnya, utuh geraknya. Perempuan yang berani berbicara kebenaran, yang berani menolak ketidakadilan, dan yang berani menjadi teladan. Karena kami percaya, ketika perempuan HMI Bulukumba kuat konsep dirinya, maka insyaAllah Bulukumba akan melahirkan generasi yang kuat pula. Dari perempuan yang sadar diri, akan lahir keluarga yang sadar. Dari keluarga yang sadar, akan lahir masyarakat yang sadar. Dan dari situlah peradaban akan dibangun.

Penulis : Hasnaul Khuluk

Leave a Reply