PEKANBARU, CAKRAONLINE.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia mendorong percepatan hilirisasi komoditas kelapa sawit di Provinsi Riau guna meningkatkan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut. Riau diketahui sebagai penghasil sawit terbesar di Indonesia.
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam kegiatan Riau Economic Forum yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Riau, Jumat (8/8), mengungkapkan bahwa sawit merupakan tulang punggung ekonomi sekaligus menyerap banyak tenaga kerja di Riau.
Namun demikian, ia menilai diperlukan pengelolaan yang lebih optimal, termasuk peremajaan tanaman sawit agar hasilnya lebih maksimal.
“Hilirisasi produk sawit bisa memberikan nilai tambah besar. Tak hanya memproduksi minyak goreng, tetapi juga pengembangan produk turunan seperti asam lemak, sabun, dan lainnya yang potensial dikembangkan,” ujar Amalia.
Ia menyebut, saat ini sekitar 2,5 juta hektare lahan sawit dikelola oleh masyarakat. Meski demikian, produktivitas lahan rakyat masih tertinggal dibandingkan perkebunan milik negara dan swasta, sehingga perlu didorong peningkatannya secara kolaboratif.
Amalia juga menyoroti potensi kelapa sebagai komoditas unggulan lainnya, terutama di Kabupaten Indragiri Hilir. Ia menilai perlu adanya pengelolaan bahan baku yang lebih baik agar berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat.
Terkait ketenagakerjaan, BPS mencatat jumlah penduduk usia kerja di Riau mencapai 4,99 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 3,22 juta termasuk dalam angkatan kerja. Adapun jumlah penduduk yang bekerja mencapai 3,09 juta orang, sementara 132 ribu lainnya masih menganggur. Jumlah pengangguran ini meningkat sekitar 8.970 orang dibanding Februari 2024.
Sementara itu, tingkat kemiskinan di Riau menunjukkan penurunan. Jumlah penduduk miskin tercatat sekitar 460 ribu jiwa atau 6,16 persen, turun sekitar 12 ribu jiwa dibandingkan tahun sebelumnya.
Garis kemiskinan di provinsi ini berada pada angka Rp713 ribu per kapita per bulan. Untuk rumah tangga beranggotakan rata-rata 5,51 orang, pengeluaran di bawah Rp3,929 juta per bulan dikategorikan miskin.
Di kesempatan yang sama, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Riau, Panji Ahmad, menambahkan bahwa posisi geografis Riau yang strategis dari Bukit Barisan hingga Selat Malaka menjadi keunggulan tersendiri, khususnya dalam pengembangan aktivitas pelabuhan.
“Dengan 65 persen penduduk berada di usia produktif dan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,59 persen secara tahunan, Riau saat ini menempati posisi keenam dalam kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) nasional, dan kedua terbesar di luar Pulau Jawa,” jelas Panji.
Leave a Reply