Akselerasi: Saatnya Putra Selayar Mencatat Sejarah di HMI Komisariat dan Keguruan Cabang Gowa Raya

CAKRAONLINE.COM – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan tertua di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam membentuk karakter, intelektualitas, dan kepemimpinan generasi muda. Di lingkungan HMI Cabang Gowa Raya, Komisariat Tarbiyah dan Keguruan menjadi salah satu komisariat yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan organisasi.

Kini, Komisariat Tarbiyah dan Keguruan tengah menghadapi momentum penting, yakni Rapat Anggota Komisariat (RAK). RAK bukan sekadar forum evaluasi terhadap perjalanan kepengurusan selama satu periode, melainkan juga menjadi ruang pertanggungjawaban, regenerasi, serta penentuan arah kepemimpinan organisasi untuk periode selanjutnya.

Pergantian nahkoda bukanlah perkara sederhana. Sebab, kepemimpinan dalam HMI bukan hanya tentang siapa yang menduduki kursi ketua, tetapi tentang siapa yang memiliki kesanggupan menjaga nilai-nilai perjuangan, merawat independensi, dan membawa organisasi tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman. Oleh karena itu, momentum RAK menjadi ruang yang sangat penting untuk dijaga dengan penuh kedewasaan dan semangat kekeluargaan.

Pada momentum kali ini, terdapat lima kandidat bakal calon Ketua Komisariat yang akan berkompetisi membawa gagasan dan arah perjuangan masing-masing. Salah satunya adalah Muhammad Yahya, yang menjadi salah satu kandidat termuda dengan mengusung jargon “AKSELERASI”.

Bagi Muhammad Yahya, akselerasi bukan sekadar mempercepat gerak organisasi. Lebih dari itu, akselerasi merupakan semangat untuk membangun gerakan kader dan pengurus yang progresif, responsif, serta memiliki kesigapan dalam membaca dan merespons berbagai problematika umat dan mahasiswa.

Akselerasi juga dimaknai sebagai upaya mendorong organisasi agar tidak terjebak dalam rutinitas struktural semata, melainkan mampu menghadirkan kerja-kerja nyata. Sebab, organisasi yang besar bukan hanya diukur dari lamanya berdiri, tetapi juga dari sejauh mana keberadaannya memberikan manfaat dan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya.

Hal yang cukup menarik dari pencalonan Muhammad Yahya adalah dimensi historis dan identitas kedaerahan yang turut mewarnai momentum kontestasi tersebut. Dalam pemaparan visi dan misinya pada 30 Oktober 2026, ia menyampaikan sebuah pernyataan yang mengandung semangat historis:

“Hari ini adalah momentum ketika sejarah akan dicatat. Putra Selayar pertama berpeluang menahkodai HMI Komisariat Tarbiyah dan Keguruan Cabang Gowa Raya. Sebab, sepanjang perjalanan panjang komisariat ini, belum pernah ada putra Selayar yang menduduki posisi sebagai Ketua Komisariat.”

Pernyataan tersebut bukan semata-mata tentang kebanggaan atas identitas daerah, melainkan juga menjadi simbol terbukanya ruang kepemimpinan bagi seluruh kader tanpa memandang latar belakang asal daerah. Jika kesempatan itu terwujud, kepemimpinan Muhammad Yahya akan menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan sejarah Komisariat Tarbiyah dan Keguruan.

Namun, lebih dari sekadar persoalan siapa yang akan menjadi ketua dan dari daerah mana ia berasal, RAK kali ini semestinya menjadi momentum untuk mengembalikan orientasi organisasi pada nilai-nilai perjuangan HMI. Sebab, jabatan kepemimpinan bukanlah tujuan akhir dari proses perkaderan, melainkan amanah untuk memastikan organisasi tetap hidup, berkembang, dan berpihak pada kepentingan umat serta mahasiswa.

Pada akhirnya, AKSELERASI bukan hanya sebuah jargon pencalonan. Ia harus mampu diterjemahkan menjadi gagasan, gerakan, dan keberanian untuk melakukan perubahan. Sebab, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah menjadi pemimpin, tetapi juga akan mengingat apa yang telah diperjuangkan dan diwariskan selama masa kepemimpinannya.

RAK bukan sekadar pergantian nahkoda, melainkan momentum menentukan ke mana arah kapal perjuangan akan berlayar.

Leave a Reply