Dampak Algoritma Media Sosial terhadap Penyebaran Berita Islami: Antara Peluang dan Tantangan di Era Digital

Dampak Algoritma Media Sosial terhadap Penyebaran Berita Islami: Antara Peluang dan Tantangan di Era Digital

Pemandangan malam CitraLand City CPI Makassar (c) foto ist

Oleh: Alwi Ahmad Asshiddiq (Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Alauddin Makassar)

Makassar, CAKRAONLINE.COM-Media sosial kini sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang menggunakan platform seperti Instagram, Facebook, TikTok, X (Twitter), atau YouTube, tidak hanya untuk komunikasi, tetapi juga untuk mencari informasi dan berdakwah. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: algoritma media sosial yang menentukan konten apa yang muncul di beranda kita, termasuk berita Islami.

Apa Itu Algoritma Media Sosial?

Algoritma adalah sistem pintar yang memutuskan konten mana yang ditampilkan berdasarkan aktivitas pengguna, seperti postingan yang disukai, video yang ditonton, atau akun yang diikuti. Tujuannya sederhana: membuat pengguna betah di platform. Namun dampaknya lebih luas, karena algoritma dapat membentuk cara pandang pengguna, termasuk terhadap berita Islami.

Dampak Positif: Dakwah Lebih Luas dan Cepat

Sisi positif algoritma terlihat dari kemampuannya memperluas jangkauan konten Islami. Konten ceramah, kutipan Al-Qur’an, atau kisah inspiratif bisa menjangkau lebih banyak orang dengan cepat. Lembaga dakwah, ustaz, dan kreator Muslim pun kini lebih kreatif, menggunakan infografik, video pendek, dan storytelling inspiratif agar konten menarik bagi algoritma.

Algoritma juga membantu memperkuat komunitas Islami online. Forum, grup, dan kanal diskusi Islami terbentuk karena pengguna memiliki minat serupa, sehingga tercipta ruang digital untuk belajar, berdiskusi, dan berbagi inspirasi.

Dampak Negatif: Hoaks dan Polarisasi

Di sisi lain, algoritma memprioritaskan konten dengan interaksi tinggi, bukan akurat. Akibatnya, berita palsu atau hoaks tentang Islam bisa tersebar lebih cepat, terutama jika memicu emosi. Fenomena “filter bubble” membuat seseorang hanya menerima konten yang sejalan dengan pandangan mereka, sehingga ruang diskusi menyempit dan polarisasi muncul.

Selain itu, algoritma kadang dimanfaatkan untuk menyebarkan ujaran kebencian atau ideologi radikal, karena konten provokatif lebih mudah viral. Jika tidak dikontrol, media sosial bisa berubah dari ladang dakwah menjadi arena konflik dan disinformasi.

Strategi Menghadapi Algoritma
Agar algoritma menjadi alat dakwah positif, beberapa langkah bisa dilakukan:

Tingkatkan literasi digital. Kenali cara kerja algoritma dan verifikasi sumber sebelum membagikan konten. QS. Al-Hujurat ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Gunakan strategi konten kreatif tapi etis. Visual menarik, cerita pendek, dan bahasa ringan tetap harus akurat dan sesuai nilai Islam.

Laporkan konten negatif. Gunakan fitur pelaporan untuk menekan penyebaran hoaks dan ujaran kebencian.

Bangun komunitas positif. Ikut grup atau forum yang membahas Islam secara sehat untuk berbagi ilmu dan perspektif.

Algoritma media sosial bukan musuh, melainkan alat. Jika dipahami dan digunakan bijak, algoritma bisa memperluas dakwah, mempercepat penyebaran berita Islami yang positif, dan membangun komunitas online yang sehat. Namun, bila disalahgunakan, risiko hoaks, polarisasi, dan radikalisme meningkat.

Media sosial bersifat netral; yang menentukan dampak adalah cara kita menggunakannya. Mari manfaatkan algoritma untuk menyebarkan kebaikan, menjaga kebenaran, dan menjadikan dunia digital sebagai sarana dakwah yang edukatif, damai, dan bermanfaat.

Leave a Reply