Bulog Tinjau Langsung Ketersediaan Beras SPHP di Pasar Pa’baeng-baeng Makassar

MAKASSAR, CAKRAONLINE.COM – Direktur Bisnis Perum Bulog, Febby Novita, melakukan pemantauan langsung ke Pasar Pa’baeng-baeng, Makassar, Selasa (30/7/2025), untuk memastikan ketersediaan dan distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) berjalan lancar. Kegiatan ini juga diikuti jajaran Bulog Makassar.

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah merespons kenaikan harga beras yang dipicu oleh keterlambatan musim panen kedua. Febby menjelaskan, program SPHP digulirkan guna menjaga stabilitas harga dan menyediakan beras terjangkau bagi masyarakat.

“Melalui SPHP, masyarakat tetap bisa memperoleh beras dengan harga di bawah HET, meskipun pasokan dari panen belum tersedia,” ucapnya.

Terkait mekanisme distribusi, Febby menegaskan bahwa Bulog hanya bertugas menyalurkan sesuai daftar penerima manfaat yang ditetapkan oleh Kementerian Sosial dan disampaikan melalui Badan Pangan Nasional.

“Kami tidak bisa mengubah atau menambah daftar penerima. Jika ada yang sudah tidak layak, perubahannya harus melalui proses verifikasi dan persetujuan kementerian,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa jumlah penerima bantuan pangan secara nasional dikurangi dari 22 juta menjadi 18,3 juta keluarga. Target penyaluran ditetapkan rampung pada pertengahan Agustus mendatang.

Febby merinci, dalam setiap alokasi, Bulog menyalurkan sekitar 180 ribu ton beras per bulan, dengan total distribusi mencapai 360 ribu ton dalam dua bulan. Khusus di Sulawesi Selatan, progres distribusi telah mencapai 90 persen.

“Setiap keluarga penerima mendapat 20 kilogram beras. Meskipun seharusnya dibagi dalam dua tahap, kami salurkan sekaligus demi efisiensi,” jelasnya.

Di Pasar Pa’baeng-baeng, Febby memastikan harga beras SPHP masih terkendali di angka Rp12.500 per kilogram. Ia juga mengapresiasi pedagang yang mematuhi aturan pembatasan pembelian dan tidak menjual secara literan.

Menurutnya, kebijakan tersebut bertujuan menghindari spekulasi harga dan penimbunan di tengah masyarakat. Meski begitu, ia menyadari adanya keluhan dari warga yang kesulitan membeli dalam kemasan besar dan mendorong evaluasi terhadap kebijakan itu.

“Distribusi dan biaya angkut juga memengaruhi harga beras non-SPHP di beberapa tempat, yang kini jauh di atas HET,” imbuhnya.

Ia berharap harga beras kembali normal usai panen raya pertengahan Agustus. “Dengan suplai meningkat, kami optimis harga beras akan kembali stabil,” tambah Febby.

Sementara itu, Kepala Bulog Makassar, Kamila Hasmin Marinta, menilai pemantauan ini sebagai bagian dari upaya pemerintah menjamin efektivitas tata kelola beras SPHP di lapangan.

“Selain mengecek stok, kami memastikan distribusi sesuai aturan. Kami juga gencar menyalurkan bantuan pangan hingga akhir Juli demi menjaga stabilitas harga dan memperluas cakupan penerima,” pungkas Kamila.

Leave a Reply