Dari Waktu Luang Menjadi Kewajiban: Ironi Sejarah Sekolah Modern.

Dari Waktu Luang Menjadi Kewajiban: Ironi Sejarah Sekolah Modern.

Sekolah dipandang sebagai institusi utama dalam proses pembentukan pengetahuan, keterampilan, dan karakter individu.

CAKRAONLINE.COM – Pendidikan pada masa kini telah menjadi kebutuhan dasar dalam kehidupan sosial. Sekolah dipandang sebagai institusi utama dalam proses pembentukan pengetahuan, keterampilan, dan karakter individu.

Namun, jika ditelusuri secara historis, konsep “sekolah” tidak selalu identik dengan bangunan fisik, seragam, maupun sistem formal seperti yang dikenal saat ini.

Dalam konteks sejarah, praktik pendidikan telah ada jauh sebelum istilah “sekolah” muncul. Pada masa Yunani Kuno, anak-anak yang memiliki waktu luang sering dititipkan oleh orang tuanya kepada individu yang dianggap memiliki pengetahuan atau kebijaksanaan untuk mendapatkan pengajaran. Aktivitas ini pada awalnya bersifat informal, namun karena berlangsung secara berulang dan menjadi kebiasaan, terbentuklah pola pendidikan yang lebih terstruktur.

Secara etimologis, istilah “sekolah” berasal dari bahasa Latin, yaitu schole, scola, scholae, atau skhola, yang berarti “waktu luang” atau “waktu senggang” yang dimanfaatkan untuk belajar. Penjelasan ini, sebagaimana dikemukakan oleh Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah Itu Candu, menunjukkan bahwa esensi awal pendidikan adalah aktivitas belajar yang bebas, reflektif, dan tidak terikat oleh tekanan struktural.
Sejalan dengan itu, Ki Hajar Dewantara mengemukakan gagasan fundamental bahwa “setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan bersifat luas, kontekstual, dan tidak terbatas pada ruang formal. Pendidikan seharusnya dapat berlangsung di berbagai lingkungan kehidupan, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Namun, dalam realitas kontemporer, terjadi penyempitan makna pendidikan. Sekolah kerap dipersepsikan semata-mata sebagai institusi formal yang identik dengan gedung, kurikulum baku, dan atribut seragam. Kondisi ini memunculkan berbagai kritik terhadap sistem pendidikan modern yang dinilai cenderung kaku, membatasi kreativitas, dan lebih berorientasi pada pencapaian administratif seperti ijazah dibandingkan pengembangan potensi individu secara holistik.

Lebih jauh, kritik tersebut juga mengarah pada dugaan bahwa sistem pendidikan formal saat ini tidak sepenuhnya bebas nilai, melainkan dipengaruhi oleh kepentingan yang lebih luas, termasuk tuntutan pasar dan kekuatan global. Akibatnya, individu yang mengenyam pendidikan sering kali diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sistem, bukan untuk mengembangkan kapasitas kritis dan kemandirian berpikir.

Dengan demikian, diperlukan refleksi kritis terhadap makna dan praktik pendidikan saat ini, agar pendidikan dapat kembali pada esensinya sebagai proses pembebasan, pengembangan potensi manusia, serta pembentukan karakter yang utuh, bukan sekadar mekanisme reproduksi sosial dan ekonomi.

Penulis : Muhammad Yahya

Leave a Reply